Pages

Monday, March 28, 2016

Sebuah Jeritan Hati

Saya adalah seorang perempuan lulusan sarjana. Sekarang, saya menjadi seorang ibu rumah tangga, dan menyandang gelar tersebut tidaklah mudah diterima. 

Rasa hati ingin sekali kembali ke dunia kerja dimana saya bisa mengenal dan melihat dunia luar, merasakan betapa senangnya berkumpul dan bercengkrama bersama teman-teman, dan lain sebagainya. Saya terkadang iri melihat teman-teman saya yang lain yang sudah berkeluarga bisa tetap eksis diluar, bisa bergaul dengan siapa saja, melanjutkan studi, berbelanja ini itu, membeli baju, tas, sepatu, dan lain sebagainya. Mereka juga bisa menyempatkan ke salon untuk spa dan perawatan lain. Sedangkan, saya sendiri hanya bisa dirumah mengurus anak, bebenah, masak.

Sebenarnya, banyak sekali kesempatan untuk saya mengajar diluar sana. Terlebih, di kota pelajar ini dengan berbagai fasilitasnya membuat saya mudah untuk memasuki dunia kerja mengingat umur saya yang masih produktif dan kualitas diri saya yang cukup. Tapi... Apakah saya harus mengorbankan harta berharga saya demi menggapai keinginan saya? Apakah saya harus menitipkan berlian saya kepada orang lain yang tak pernah saya kenal sebelumnya?

Anak saya adalah berlian termahal yang telah Allah berikan kepada saya. Maka dari itu, sulit sekali bagi saya melepas berlian dan membiarkannya tumbuh berkembang bersama orang lain ketimbang dengan saya. Saya tak pernah tega dan rela membiarkannya diasuh orang lain yang tak pernah saya tahu asal usulnya. 

Saya sering membayangkan jika suatu saat saya harus menitipkannya ke suatu tempat, saya mungkin akan menyesal dan menangis setiap setelah saya menitipkannya. Saya selalu terbayang jika buah hati saya harus saya titipkan, bagaimana dengan makannya, perhatian untuknya, dan lain sebagainya. Apakah orang lain akan mengasuhnya seperti saya mengasuh si kecil? Apakah anak saya akan selalu dimandikan sambil bercanda dan bermain sabun beserta bebek karet yang berenang-renang menemaninya? Apakah ia akan selalu disuapi sambil bercerita, bernyanyi, mengaji, dan lainnya? Apakah dia akan ditidurkan dengan pelukan sayang yang menemaninya? Apakah dia akan selalu dibacakan buku cerita dengan bahasa inggris sembari mengajaknya bercengkrama menirukan suara-suara hewan? Ah... Sepertinya tidak begitu.

Si kecil yang mulai tumbuh berkembang dan sudah mengenal saya tak mau lagi digendong dan ditemani orang asing tanpa ada saya disebelahnya. Ketika saya habis berbelanja sebentar di warung tanpa membawanya, ia terlihat tak mau ditinggal oleh saya. Sebenarnya, dia suka jika banyak orang bercanda dan menemaninya, asalkan disampingnya ada saya.

Maka dari itu, jika membayangkan saya harus bekerja diluar dan menitipkannya, saya tak akan pernah tahu seberapa lama dia akan menangis mencari saya, mencari seseorang yang selama ini selalu ada disampingnya saat mandi, makan, bermain, dan tidur. Membayangkan saja air mata ini sudah menetes, apalagi hal itu menjadi sebuah kenyataan. Saya pasti akan menyesal dan menangis setiap hari, setiap setelah mengantarkan dan sebelum menjemputnya di tempat penitipan.

Mungkin akan ada sisi positifnya jika saya menitipkannya, salah satunya sosialisasi dan adaptasi. Tapi, apakah dengan itu saya rela meninggalkannya? Ah saya kira tidak. Saya tidak tega meninggalkannya dan membiarkannya diasuh dan dididik orang lain yang saya tak pernah tahu latar belakang pendidikannya sedangkan saya sendiri harus mendidik anak orang lain. Padahal seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Coba bayangkan, saya yang lulusan sarjana malah mengajar dan mendidik diluar, tapi anak saya malah saya biarkan bersama orang lain yang riwayat pendidikannya saja saya tak pernah tahu. Maaf, bukan maksud untuk menyalahkan dan mendoktrin para ibu-ibu yang mengajar diluar. Tapi, itu semua hanya jeritan hati saya ketika saya juga ingin tetap eksis diluar tapi berat di berlian termahal, itu semua juga jeritan hati saya ketika saya sudah kehilangan banyak teman dan komunitas saya.
 
Hati perempuan mana yang tak senang pergi keluar, berbelanja, ke salon, makan diluar bersama teman, bercengkrama bersama rekan, dan bisa bertamasya ria bersama kawan? Bisa membeli dan mengoleksi baju, jilbab, sepatu, dan segala macamnya dengan uang sendiri rasanya menyenangkan sekali. Ah sudahlah... Saya mencoba mensyukurinya dengan adanya harta berharga yang saya miliki saat ini. Saya yakin akan ada jalan dimana saya bisa mengajar dan menularkan ilmu saya dari rumah. Akan ada waktu dimana saya bisa menjemput rejeki tambahan dari rumah. Akan ada waktu pula untuk saya bisa berkumpul bersama teman-teman saya. Dan, akan ada waktu untuk saya dimana saya bisa melanjutkan studi saya.
Wednesday, December 16, 2015

Karena Romantis Itu Tak Harus Selalu Diucapkan Dengan Kata

Aku adalah seorang ibu rumah tangga baru yang telah mengorbankan segala pekerjaan prestige demi mengurus buah hatiku. Bagiku, menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang berat, seberat menjaga amanah yang telah dikaruniakan oleh Sang Khaliq, buah hatiku tersayang. Jujur dari dalam hati yang paling dalam, terselip rasa ingin kembali bekerja, mempunyai banyak relasi, bisa hang-out sana-sini dan sebagainya. Hanya saja, ini kesepakatanku dan suami tercintaku bahwa aku harus mengalah dan menjaga serta merawat si kecil di rumah.

Ngomong-omong soal suami, aku dan suamiku mempunyai karakter yang tak jauh beda. Kami berdua sama-sama cuek dan tak banyak menggombal. Jarang sekali bagiku mengatakan ‘IloveU’ ‘aku sayang kamu’ dan kata-kata manis lainnya. Sama halnya dengan dia. Ketika kami berjauhan, kami berdua hanya saling sapa dan saling memberi kabar masing-masing tanpa embel-embel ‘sayang’ atau ‘cinta’. Yaaa walaupun kadang-kadang kalau sudah merasa kangen berat ya sama-sama hatinya lumer dan jadi sok romantis gitu, hehehe...

Kecuekan kami, menurut saya, tak mencerminkan bahwa kami tak romantis. Romantis itu bagi kami bukan sekedar diucapan dan diucapkan saja, tetapi juga perlu tindakan sebagai bukti nyata.

“Bilang sayang tapi kalo gak bisa nyenengin ya namanya gak sayang. Mending gak usah dibilang tetapi ada perjuangan buat nyenengin, itu namanya bukti nyata.” Kata suamiku, dan aku sangat membenarkan.

Aku sendiri sering merasa geli ketika pendamping hidupku membisikkan sesuatu di telingaku.

“Ayah sayang bunda.” Katanya dan hanya ku balas dengan senyuman geli.

“Bunda juga sayang ayah.” Balasku sembari tersenyum.

“Bohong.” Balasnya.

Dan biasanya aku langsung memalingkan badanku sembari tersipu malu sebenarnya  dan berkata “iya, memang bohong kok”. :p

Walaupun kami berdua sama-sama tak pandai mengungkapkan perasaan masing-masing, tapi aku percaya, bahwa pendamping hidupku adalah laki-laki terbaik dalam hidupku yang telah Allah turunkan untuk menjagaku dan anak-anakku. Begitupun dengannya, dia percaya bahwa aku adalah perempuan terbaik dalam hidupnya yang akan merawatnya dan mengasuh anak-anaknya serta memberikan kasih sayangku untuk keluargaku, keluarga kami. ^_^
Thursday, July 30, 2015

Bagaimana Caranya Agar Cepat Hamil?

Pertanyaan itu banyak sekali dilontarkan teman-teman saya. Saya sendiri bingung untuk menjawabnya. Seingat saya, sebelum menikah saya rutin ber-jogging di alun-alun kampung halaman saya bersama sahabat karib saya yang bernama Nuri. Entah kenapa saya senang sekali ber-jogging. Maklum saja, saat itu saya sudah off dari pekerjaan saya sebulan sebelum hari H. Jadi saya ada banyak waktu untuk beraktifitas, termasuk berolahraga.

Saya melakukan jogging dua minggu sekali, terkadang jika Nuri berhalangan untuk jogging, saya mengajak adik saya, Novi. Hobi baru saya (jogging), saya lakukan hingga H-2. Sampai ketika saya bertemu dengan beberapa kenalan saya, mereka kaget dan bilang “Lho kamu kan masih dipingit, kok keluar-keluar?” “Heh, mau jadi nganten kok malah keluar?” dan lain sebagainya.

Orang tua saya kebetulan memang tak pernah melarang saya untuk melakukan aktifitas positif diluar. So, why not? H-1 saya juga masih berjalan-jalan santai di alun-alun mengajak sanak saudara saya yang berada diluar kota sembari memperkenalkan kota terindah yang pernah ada, Wonosobo.

Selain berolahraga, saya juga banyak mengkonsumsi sayuran. Maklum, saat itu masih moment Idul Adha, jadi saya agak sedikit bosan dengan yang namanya daging, jadi saya memutuskan untuk lebih banyak dan sering mengkonsumsi sayuran seminggu sebelum hari H.

Yang terakhir mungkin doa dan berserah kepada Sang Khaliq. Pasalnya, seminggu setelah menikah, saya dan suami mencoba membeli testpack dengan harga dan kualitas nomer satu, tapi hasilnya negatif. Sempat ada fikiran “Mungkin memang harus menunggu satu sampai beberapa bulan kedepan.”

Entah kenapa, ajaibnya, dua minggu setelah itu, saya merasakan mual yang sangat, sempat saya hanya mengira bahwa saya kecapekan, tetapi setelah membeli testpack di salah satu apotik terkenal dengan harga dan kualitas standar, ternyata hasilnya positif. Tak berhenti sampai disitu, karena rasa ketidakpercayaan saya, saya mencoba membeli lagi satu testpack dengan harga paling murah. Lagi, hasilnya positif.

Saya pun segera menghubungi sahabat saya yang berprofesi sebagai bidan, Nia. “Segera ke bidan, jaga kesehatan, jangan sampai kecapekan, hindari makanan pedas dan bersantan yang bisa memicu mual.” Sarannya lewat BBM. Saya pun segera ke bidan diantar suami. Dan benar saja, ternyata kandungannya sudah beberapa pekan.

Ucap syukur tak henti-henti saya panjatkan. Dan satu lagi, bisa saja karena faktor kesuburan yang panjang. Kata seorang ahli, saya termasuk orang yang memiliki masa subur panjang, maka dari itu kenapa seminggu setelah menikah hasilnya masih negatif dan dua minggu kemudian sudah positif. Padahal saat itu saat dimana seharusnya saya berhalangan.

Mungkin hanya itu yang bisa saya bagikan tentang bagaimana agar cepat hamil. Pertama jangan lupa olahraga, kedua mengkonsumsi sayuran, ketiga ketahui dan pantau masa subur, dan jangan lupa berdoa ^_^. Oh iya, ada catatan penting, setelah saya menikah, saya dilarang keras oleh orang tua untuk berolahraga atau bekerja yang berat-berat sebagai antisipasi dini . Saya boleh berolahraga paling tidak sehari atau dua hari setelah berhalangan, dan itupun sekali atau dua kali hingga paling tidak sampai seminggu setelah berhalangan.

Tuesday, July 7, 2015

Superhero for My Son

Bagiku, ayah adalah seorang pemimpin yang mempunyai tanggung jawab besar dalam memimpin dan mengayomi keluarganya. Tak hanya itu, kasih sayangnya sangat diperlukan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga. Dan bahagianya, hal itu telah aku temukan didalam diri seseorang yang aku cintai, siapa lagi kalau bukan suamiku yang telah selalu siaga disampingku kapanpun aku membutuhkannya. 
Teringat aku saat-saat akan melahirkan sang buah hati. Baru sehari ia merantau untuk bertugas mencari berita, aku sudah menyuruhnya pulang untuk menemaniku menginap di rumah bersalin “At-Tin”. Saat itu, Kamis sore, aku mengajak kakakku untuk berkonsultasi kepada bidan langgananku di rumah bersalin tersebut, siapa lagi kalau bukan Bu Arti sebagai bidan senior yang cukup terkenal di kota dingin ini. Keluhanku saat itu adalah mules dan kencang di perut. Dan hasilnya ketika aku merasakan rasa kencang yang lebih sering, aku harus segera kembali ke rumah bersalin tersebut. Aku pun pulang dan mulai membantu ibuku berjualan takjil. Menjelang malam, aku putuskan untuk sholat tarawih di rumah, dan benar saja, sesekali aku merasakan kontraksi yang masih ringan. 
Aku pun mengeluhkan hal tersebut kepada ibuku, akhirnya, ibuku menyuruhku untuk mempersiapkan semuanya dan membawa segala perlengkapanku ke dalam koper. Sembari menyetrika baju kemeja dan selendang yang wajib aku bawa, aku meringis geli merasakan kontraksi ringan. Keluargaku langsung membawaku ke tempat bersalin tersebut. 
“Oh sudah bukaan dua, menginap disini aja biar gak bolak-balik.” Kata Bu Arti. 
Aku pun mengiyakan dan segera memberitahu suamiku untuk menuju rumah bersalin tersebut. 
Jam sepuluh malam sudah, suamiku akhirnya tiba dengan membawa satu tas besar berisi pakaian dan handycam andalannya. Bapak ibuku yang telah mengantarku akhirnya pulang dan satu orang yang memang setia menemaniku, ayah untuk si kecilku. 

Di kamar berukuran 5 x 6 yang aku tempati saat itu, tersedia dua kasur di pojok utara dan selatani, ditengahnya terletak box bayi besar dengan kelambu dan di seberangnya terdapat kasur kecil untuk mengganti baju bayi. Tak jauh, ada sebuah kamar mandi kecil dengan toilet duduk yang cukup nyaman.

“Sini, mas temenin disini.” Katanya sambil memelukku.

Aku pun segera berbaring di kasur sebelah utara. Disuruhnya aku tidur untuk mengumpulkan tenaga esok saat persalinan. Padahal saat-saat seperti itu sulit bagiku untuk memejamkan mata karena beberapa menit sekali perutku terasa mulas dan kencang. Akupun selalu mondar-mandir ke kamar mandi karena efek dari rasa mulas dan kencang. Alhasil, paginya aku mual muntah tak karu-karuan. Ibuku pun datang menjenguk dan menanyakan keadaanku. Mengetahui anaknya belum ada perkembangan, ibuku segera menyuruhku untuk berjalan-jalan kesana kemari. Tak hanya itu, ketika melihat sebuah bangku pendek, ibuku menyuruhku untuk menaiki dan menuruni bangku tersebut. Hal itu aku lakukan berjam-jam hingga siang menjelang.

“Sudah jam 11, mas siap-siap jum’atan ya.” Kata belahan hatiku dengan tatapan mata agak berat dan malas-malasan.

“Iya, jum’atan aja, siapa tahu habis jum’atan dedeknya lahir.” Jawabku tersenyum memaksa sembari menahan rasa mulas.

Beberapa menit berselang, ia tak juga beranjak pergi ke masjid, terlihat sekali gayanya setengah malas dan berat meninggalkanku sendiri dikamar sederhana tersebut. Aku pun tak sabar menanyakan keadaanku dan tindak lanjut dari bidan terhadapku.

“Mbak, kok saya belum diperiksa lagi ya? Kira-kira mau diperiksa lagi kapan?” Tanyaku kepada mbak Dewi, asisten bidan yang khas dengan behelnya.

“Nunggu ada indikasi lagi mbak.” Jawabnya.

“Indikasinya apa aja?” Tanyaku.

“Lendir darah yang bertambah banyak, air ketuban yang pecah, atau mules yang mulai sering.” Jawabnya.

Akupun segera menuju ke kamar dan berjalan-jalan kesana kemari sembari memegang tulang belakangku yang semakin sakit.

“Sudah mbak, mending mbak istirahat, buat bobok miring ke kiri. Itu sama aja kayak mbak jalan. Daripada nanti mbak kecapean gak ada tenaga buat persalinan.” Kata mbak Dewi yang mulai masuk ke kamar. Aku pun berbaring menghadap ke kiri dengan harapan bayiku akan segera keluar dan rasa sakit ini segera hilang.

Beberapa menit kemudian, suamiku datang dan menanyakan keadaanku.

“Udah dicek lagi belum?” Tanyanya.

Aku hanya menggelengkan kepala dan menjelaskan indikasi yang membuatku akan diperiksa lagi. Karena tak juga merasakan indikasi tersebut, aku pun sempat menangis dua kali karena sudah tak tahan merasakan sakit yang tak karu-karuan tersebut. Belahan hatiku hanya bisa memelukku dan membantu meringankan sakitku dengan mengelus-elus punggungku.

Sudah jam 2 lebih. Badanku mulai lemas, aku memutuskan untuk berbaring ke kiri dan beristirahat. Ternyata rasa mulas mulai sering kurasa. Akupun menyuruh cintaku untuk memberitahukan kepada mbak Dewi.

“Oh, belum begitu banyak kok lendir darahnya. Nunggu sebentar lagi ya.” Katanya.

“Mas ke ATM dulu ya.” Kata suamiku yang juga sedang sibuk mengurus pesanan kaos dan jaket.

Tak lama berselang, bu Arti datang dan memeriksaku.

“Oh udah bukaan enam, ya udah, dipindah dikamar sebelah aja ya.” Kata Bu Arti lembut dan sabar.

Aku pun dipindah ke ruang sebelah yang cukup luas dengan dua kasur didalamnya dan beberapa perlengkapan bersalin. Disuruhnya aku berbaring di kasur paling ujung sebelah selatan sembari menunggu bukaan sempurna. Sementara itu, ibu dan kakakku datang membawakan makanan kesukaanku, es buah, kurma Tunisia, dan salad buah. Suamiku mencoba memberiku semangat dan menyuapiku sesekali ketika kontraksi semakin sering aku rasakan.

“Mas bisa bantu apa?” Tanyanya sambil menyuapiku salad buah.

“Gak usah, bantu doa sama semangat aja.” Jawabku.

Aku teringat saat itu, beberapa bulan sebelum persalinan, aku sempat bercanda kepada suamiku untuk saling memberikan semangat.

“Pokoknya nanti mas yang teriak SEMANGAT, adek yang jawab Jeng, Jeng, Jeng, Jeng, Jeng.” Kataku sambil tertawa di kamar bersamanya.

Tapi sepertinya candaan itu sama sekali tak akan pernah jadi kenyataan mengingat rasa sakit yang aku alami saat itu benar-benar membuat tenaga dan rasa humorku turun drastis.

Sudah jam setengah lima sore. Bu Arti mencoba mengontrol kembali keadaanku. Dan, benar saja, sudah bukaan sempurna. Tinggal berpindah ke kasur persalinan yang berada disebelah selatan. Aku pun berbaring disana sambari dipegang dan dipeluk erat oleh sesosok pemimpin yang membuat hati dan jiwaku tenang. Kulihat air matanya mulai menetes.

“Udah, gak usah hiraukan mas. Mas gak apa-apa kok. Yang penting adek semangat ya.” Katanya mencoba menyemangatiku.

“Bu, nanti kalau saya nangis gak apa-apa ya.” Kataku ke bu Arti.

Aku memang agak lebay jika terluka sedikit atau mengeluarkan darah. Terkadang suka khilaf nangis untuk menghilangkan rasa sakit hehe..

“Oh gak apa-apa, bu Arti gak bakalan marah kok. Yang penting nanti ikuti aba-aba ibu ya. Kalau ibu bilang tarik nafas yang dalam, coba tarik nafas. Kalo ibu bilang tahan ya ditahan. Kalau ibu bilang miring ke kiri ya miring ke kiri ya.” Katanya.

Akupun mengangguk. Sembali berdzikir dan membaca apa saja yang aku bisa, aku mulai merasakan nyeri yang tak karu-karuan. Air ketuban yang terasa hangat pun mulai dipecah. Proses persalinan mulai benar-benar aku rasakan.

Setengah jam berlalu. Sang buah hati masih belum keluar. Untungnya aku masih punya cukup tenaga untuk menarik nafas. Bu Arti dan dua asistennya mencoba memberikan aba-aba sembari melihat jam yang terpasang di dinding sebelah utara. Tepat diatas kasur persalinan.

“Udah buka, yuk buka dulu. Mas buka dulu mas.” Kata bu Arti ditengah proses persalinan.

Aku pun ditinggal berbuka dan hanya ada satu asisten bidan yang menemaniku saat itu. Mbak Lusi, asisten bidan yang berwajah manis dan berbadan subur. Tak lama kemudian semuanya kembali.

“Udah berapa jam ya mbak?” Tanyaku.

“Udah satu jam.” Jawab mbak Dewi.

“Biasanya berapa jam?” Tanyaku penasaran.

“Macam-macam. Ada yang dua jam juga kok.” Jawabnya.

Saat itu aku berfikir ‘ternyata ada yang lebih lama’. Tak berapa lama, ibu dan keluargaku pun datang menjengukku, mereka mengira sang buah hatiku telah keluar, ternyata belum.

Ibuku pun mulai ikut manyemangatiku dan menemaniku sembari membantu mengangkatkan kepalaku saat aku harus menarik nafas dalam-dalam.

Hampir dua jam berselang. Sang buah hati tak juga keluar. Belahan hatiku pun segera membuka Al-Qur’an dan mencoba menenangkan hatinya dengan mengaji di ruang persalinan tersebut. Sedangkan Bu Arti, terlihat duduk lemas sambil menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa agar persalinanku dimudahkan. Tambah lagi, mbak Lusi mencoba memeriksa detak jantung bayi dengan alat pendeteksi detak jantung. Dilihatkannya alat tersebut kepadaku yang menunjukkan detak jantung sang buah hati masih stabil. 129-130.

Masih ada harapan banyak. Aku harus semangat sampai nafas terakhirku. Pokoknya aku harus berusaha agar bayiku bisa keluar normal dan aku bisa merasakan betapa indah dan nikmatnya menjadi seorang ibu yang bisa melahirkan sang buah hati dengan normal. Tak lama kemudian, aku mencoba memaksakan diriku dan menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya, suara teriakan seorang bayi terdengar sangat keras. Terlihat sekilas tangannya yang mungil terangkat keatas. Rasanya lega dan sangat senang ketika impianku menjadi seorang ibu terwujud. Ku peluk belahan jiwaku erat dan ku lihat sekilas si kecil yang terlihat putih dengan balutan handuk berwarna pink.

“Laki-laki apa perempuan bu bayinya?” Tanyaku

“Laki-laki” Jawab bu Arti sambil tersenyum.

Tak lama kemudian ibuku membisikkan sesuatu kepadaku.

“Pantesen lama, bayinya kalung usus.”

“Kalung usus itu apa?” Tanyaku penasaran 

“Terlilit tali pusar”

Padahal satu bulan sebelumnya aku sempat memeriksakan kandunganku dengan USG 4 dimensi di salah satu klinik ternama di kotaku dan tak ada masalah apapun. Tapi, ya sudahlah, toh hal itu sudah berlalu. Rasa sakitku pun hilang ketika melihat si kecil.

Kini, aku menyandang status baru sebagai seorang ibu, dan pendamping hidupku sekarang menyandang status ayah. Tanggung jawabnya semakin besar dalam memimpin keluarganya. Perlahan, aku pun mulai benar-benar menemukan dan melihat sosok ayah dalam dirinya. Kerja kerasnya siang malam dan tak kenal lelah dalam mengais rejeki hanya demi keluarganya menjadikannya sosok Superhero untuk sang buah hatiku.    

When you've been fighting for it all your life
You've been working every day and night
That's how a superhero learns to fly
Every day, every hour
Turn the pain into power

All the hurt, all the lies
All the tears that they cry
When the moment is just right
You see fire in their eyes

'Cause he's stronger than you know
A heart of steel starts to grow

When you've been fighting for it all your life
You've been struggling to make things right
That's how a superhero learns to fly
Every day, every hour
Turn the pain into power

-the script à superheroes-
Sunday, May 10, 2015

Fenomena Ngidam

Bagi ibu hamil, istilah ngidam mungkin sudah tidak asing lagi. tapi bagi beberapa orang awam seperti saya, istilah tersebut begitu sangat membingungkan dan mempunyai banyak makna yang harus saya cerna dalam-dalam #mulai lebay.

Menikah adalah sesuatu yang bagi saya serasa seperti mimpi. Hingga akhirnya tak lama berselang, saya pun merasakan gejala mual muntah dengan nafsu makan menurun yang sangat drastis. Mungkin memang ini yang banyak diidamkan para pasangan suami istri di dunia. Menanti datangnya si buah hati. Padahal seminggu setelah menikah, saya mencoba membeli testpack dengan kualitas dan harga terbaik. Dan hasilnya negatif. Dua minggu berselang, tiba-tiba saya sudah harus mengalami mual yang luar biasa. Saya putuskan untuk membeli testpack dengan harga dan kualitas sedang. Paginya, garis yang ditunjukan alat tersebut menandakan positif. Karena merasa sulit untuk dipercaya, sayapun membeli satu test pack lagi dengan harga yang paling murah. Dan benar saja, positif.

Segera saya dan suami mencari bidan dan mengkonfirmasi hal tersebut. Yang benar saja, menurut perhitungan medis, janin yang ada di dalam perut saya sudah berusia 5 minggu, padahal usia pernikahan saya dan suami baru 3 minggu. 

Rasa syukur tak henti kami panjatkan. Tapi rasa mual dan muntah yang mulai mendera serasa membuat badan saya semakin lemas. Melihat nasi pun serasa tak berselera terlebih mencium baunya, menambah mual saya semakin tak karu-karuan. Ada yang berpendapat bahwa kejadian mual muntah tersebut dinamakan mengidam. Tapi ada juga makna mengidam dengan adanya keinginan-keinginan membeli dan memakan bahkan melakukan sesuatu yang sangat.

Semula, saya mengira bahwa mengidam adalah menginginkan sesuatu makanan yang sangat ingin dimakan. Ternyata setelah beberapa orang menanyakan “Ngidam gak mbak?” saya terdiam dan hanya membalas. “Mengidam gimana ya?”

Sebagian menjelaskan “Mual muntah” dan sebagian menjelaskan “Kepingin apa?”

Sebelumnya saya pikir hal tersebut hanyalah mitos dan keadaan psikologi ibu hamil saja. Ternyata tidak, sebagian ibu hamil memang mengalami hal yang aneh seperti itu. Seperti saya, yang tadinya suka makan lele dan soto, semenjak hamil, menjadi bertambah mual dan muntah mencium bau dan melihat kedua jenis masakan tersebut. Padahal, sebelum hamil, saya dan suami sangat senang membeli dan memakan soto di warung soto dekat kantor suami saya menyelesaikan berita.

Tapi, herannya, sebagian teman saya yang hamil merasa enjoy dan biasa saja. Masih enak buat makan dan melakukan berbagai aktifitas apapun. Tak ada keluhan mual muntah selama hamil. Enaknyeeeee....

Dibalik itu, sebagian kecil teman saya juga merasakan tak enak badan dan makan selama berbulan-bulan, bahkan sampai bayinya lahir. Untungnya, saya hanya mengalami gejala ngidam itu di trimester pertama. Setelah itu, saya merasakan keadaan saya kembali normal. Eits,, tapi untuk masalah soto sama lele, jangan ditanya. Masih belum mau mendekati dua jenis makanan itu.    


Sunday, April 5, 2015

Kejutan Kecil dari Mereka ^_^

Mengajar adalah kegiatan yang paling aku sukai. Tanpa mengajar, rasanya hidupku terasa hampa dan kurang bermanfaat. Eits, kali ini aku gak lebay lho :p. Dan siapa sangka, ketika aku melepas jabatan mengajarku di kota Sejuta Bunga dan memutuskan untuk tinggal bersama suami di sebuah kabupaten Handayani, aku langsung diberikan amanah oleh Sang Pencipta untuk menjaga dan merawat amanah itu. 

Sebulan lebih aku tinggal bersamanya di kabupaten yang kaya dan terkenal akan pantai-pantainya yang sangat indah. Suamiku beberapa hari lagi juga akan keluar kota selama kurang lebih sepuluh hari. Sangat menghawatirkan untuk aku sendiri tinggal sebatang kara yang sedang angkatan satu bulan untuk ditinggal suami merantau. Oleh sebab itu, suami mencoba menitipkanku di rumah orang tuaku agar aku lebih terjaga dan terpantau. Maklum saja, waktu itu kondisiku sedang lemah dan nafsu makanku turun drastis. 

Setelah tiba di kota asalku, dimana orang tuaku tinggal dan dimana aku dilahirkan, orang tuaku sempat kaget melihat kondisiku yang lemah dan sedikit kurus. Maka dari itu, agar orang tua lega dan tak khawatir, aku harus berjauhan sebentar dengan suami dan tinggal sementara waktu dengan orang tuaku di kota yang sangat asri ini. Dan tak terasa, empat bulan sudah aku tak bekerja dan mengajar. Aku merasa hidupku benar-benar hampa. Aku hanya bisa tidur-tiduran dan sedikit malas-malasan, mengingat kondisiku juga masih belum stabil.

Tak berapa lama, ada seseorang yang tak asing bagiku dan bagi keluargaku. Dia adalah guru, pengurus, sekaligus pernah menjabat sebagai kepala sekolah di suatu sekolah dasar dimana dulu aku pernah belajar disana. Tak disangka, Sang Pencipta memberikan rejekinya lewat siapa saja. Aku pun diminta untuk mengajar disana tanpa aku harus capek-capek mendaftar.

“Yang penting ngumpulin fotokopi ijazah aja.” Kata ibuku menjelaskan. Maklum saja, aku tak tahu apa-apa. Hanya tahu kabar jika aku dibutuhkan sebagai pengajar bahasa Inggris di sekolah yang berlantai tiga itu.

Beberapa hari kemudian, aku pun diantar orang tuaku mengumpulkan fotokopi ijazah tersebut ke sekolah. Sebenarnya, kondisiku saat itu belum begitu baik. Jalan saja masih sempoyongan dan serasa mau pingsan, tapi aku mencoba menguatkan diriku untuk selalu kuat.

Benar saja, seminggu kemudian aku dipanggil ke sekolah untuk konfirmasi. Dan sehari setelah itu aku sudah bisa mengajar 7 kelas dalam seminggu.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Penggalan ayat suci itu tak pernah ku lupa.

Bayangkan saja, tak ada pikiran dariku untuk bisa mengajar dengan cara semudah itu. Diluar sana, banyak sekali yang mendaftar dan ingin mengajar tapi tertolak. Sedangkan aku sendiri, tanpa harus mendaftar dan mencari, Allah memberikan jalan untukku agar aku bisa semangat menjalani kehidupanku yang akan berjauhan sebentar dengan suami.

Aku pun mulai mengajar pada hari Rabu, jadwal mengajarku untuk kelas 3 Kiayi Dasuki dan kelas 3 Hj. Zuhriyah. Melihat wajah siswa-siswi disana yang riang dan lucu membuatku senang bukan main. Walaupun memang mereka terkesan ramai, ribut, cerewet, usil, dan lain sebagainya, aku sangat menikmati hari-hari mengajarku disekolah almamaterku.

Hari Senin, aku mengajar kelas 6 dan kelas 5. Hari dimana terasa damai untuk mengajar, mengingat mereka berada di tingkatan kelas atas, jadi siswa-siswinya agak diam dan dapat dikondisikan. Apalagi untuk kelas 5, damai sekali rasanya mengajar disana. Semuanya aktif bertanya, mendengarkan, dan mengikuti petunjuk dan penjelasan yang aku sampaikan. Yah, walaupun terkadang ada satu atau dua anak yang memang kurang bisa dikendalikan. Dan aku memaklumi itu, hampir semua sekolah pasti mengalami seperti itu. ^_^

Hari Selasa, cukup tenaga dan suara ekstra untuk dapat mengajar di hari itu. Bagaimana tidak? Aku harus mengajar kelas 2 Bisri Syamsuri dan 2 Wahid Hasyim serta kelas 4 yang siswa-siswinya super dan hiper aktif. Kelas 2 mana yang siswa-siswinya gak lari-larian? Kelas 2 mana yang siswa-siswinya gak nangis, gak teriak-teriak, dan gampang buat diarahkan. Aku yakin hampir semua sekolah di Indonesia mempunyai siswa-siswi kelas dua yang masih suka berlari kesana-kemari di dalam kelas, teriak-teriak, tarik-tarikan, cubit-cubitan, nangis, dan lain sebagainya.

Belum lagi aku juga harus masuk ke kelas 4 yang siswanya juga sangat aktif. kendala waktu yang terlalu singkat untuk mengajar membuat aku sulit untuk menerangkan dan menyelesaikan materi. Aku hanya bisa menulis materi di papan tulis dan menjelaskan sebentar, sangat sebentar. Kendala mengajar yang belum bisa aku selesaikan sampai sekarang.

Dibalik itu, banyak sekali keajaiban dan kejutan kecil yang membuatku tersenyum geli dalam mengabdi di sekolah sederhana itu. Walaupun siswa-siswinya terkesan ramai, tak memperhatikan, dan lain sebagainya, mereka sering memberiku kejutan kecil seperti coklat, puding, makanan, tissue, dan lain sebagainya yang membuatku tak bisa menyembunyikan senyum kebahagiaan dan senyum syukurku dalam mengajar mereka.

Sebagian mereka malah kadang bermanja-manjaan ketika melihatku sedang duduk di bangku panjang diluar kelas. Mereka bercengkerama denganku dan menawariku makanan ringan yang mereka beli. Mereka juga selalu bersalaman dan mencium tanganku dimanapun mereka melihatku.

“Salaman riyen bu, men berkah.” Kata siswa-siswi kelas 6 setiap berpapasan denganku.

“Heh, jangan berisik, bu Winda masih punya adek di perut.” Kata salah satu siswi kelas tiga ketika aku mengajar.

“Hah, bu Winda udah mau punya adek?”

“Bu Winda udah nikah?”

“Bu Winda aku kira masih kuliah.”

“Kok ibu gak pernah bilang kalo udah nikah? Aku kecewa.”

“Siapa nama suaminya ibu?”

“Suaminya ibu tinggal dimana?”

Celotehan anak-anak yang terkadang membuatku geli. Mereka selalu menanyakan hal itu dimanapun aku berada, tak terkecuali didalam kelas.

Yang terkadang membuatku geli lagi ketika beberapa siswa-siswi menjemputku di ruang guru dan mencoba membawakan buku dan alat mengajar lain ke kelas.

“Aku bawa LKS ya bu.”

“Aku mau bawain kotak pensilnya bu Winda.”

“Aku juga mau bawain bu, aku bawa apa ya?”

“Aku mau jagain bu Winda aja sama adek di perut.”

“Eh perutnya ada adeknya ya bu?”

“Eh kok adeknya gerak bu barusan?”

“Bu, aku boleh pegang perutnya gak?”

Benar-benar celotehan mereka yang lucu. Kejutan-kejutan kecil dari merekalah yang membuatku semangat menjalani hidupku disaat aku harus jauh dengan seseorang yang aku sayangi.    
Friday, January 9, 2015

#FoodChallenge

Akhirnyaaaaaaa....

Lima hari sudah aku berjibaku dengan gaya dan seni menghias makanan wkwkwk,,, #sok2an..
Gara2 onty Anggi 'agil' Mahdia Qeisyita yang tiba-tiba men-tag hasil #foodchallenge di fb ku, aku harus melanjutkan tongkat estafet dalam memposting masakan selama 5 hari. Dan aku juga harus gantian men-tag teman lain untuk meneruskan tongkat estafetku.

Di tengah jalan, ketika aku mau men-tag teman lain, eeeeehhhh udah dikuasai sama yang namanya bunda Ermi Kartika Dwi Wari. Jiaaaahhhh.. Bingung sudah aku melanjutkan tongkat estafetku.
Tapi untungnya, aku punya banyak kenalan mulai dari yang dulu ketemu di Pare, di MBS, sampai di mana-mana hehe..
Selesai sudah tugasku dan aku akan melanjutkan tugas lain yang sudah mengantri ^_^, apalagi kalau bukan menulis artikel dan mencari materi untuk ku jadikan modul ^_^


Ini nih menu makan siang sebelum minum vitamin 
Ebi furai sama agar2 melon penuh cinta hehe..
ketinggalan nasi yang belumm matang hehe.. niatnya mau aku bentuk bunga mawar, tapi sayang belum matang.. giliran ebi udah aku cuwil buat ngemil, taraaa,,,, nasinya mateng.. 
oh iya,, masih ada lagi sebenernya tambahan kacang hijau sebagai desert, tapi lupa 
ya sudah,, tongkat estafet hari pertama mau aku kasih ke Ani Yunita Prasetiani yang dulu juga suka masak bareng aku di kost 
Tante Anggi 'agil' Mahdia Qeisyita apa yang harus saya lakukan selanjutnya??
Ralat,,, tongkat estafet aku kasih ke saudari Mintul Ehm aja,, hehe 
Foto dan upload di fb masakannya dan tag ke temen selama 5 hari berturut2
selamat menjoba Mimi 

#‎day2‬ ‪#‎foodchallenge‬ ‪#‎menumakansiangdansore‬
Berhubung tadi pagi ada kegiatan, siangnya ketiduran akhirnya cuma ada bakso sama buah Kweni,, tak campur sama mi putih...
beberapa jam kemudian, perut laper gegara belum keisi nasi, akhirnya cling....
ada opor ayam tanpa kuah hehe...
hari kedua ini, tongkat estafet saya lanjutkan ke saudara Nurizky Rahmawaty... 
Malam ini, kalau sempet, rencana mau bikin jelly, tapi gak ada rambutnya kok,, santai aja wkwkwk,, colek Anggi 'agil' Mahdia Qeisyita


#‎Day3‬ ‪#‎FoodChallenge‬ ‪#‎menumakansiang‬ 
Dikarenakan pagi ini gak ada kegiatan,, aku putuskan buat masak kentang balado.. kebetulan ada sisa kentang dari keluarga Batur akhir liburan kemarin 
kentang balado juga merupakan makanan kesukaan misua,, hehehe.. 
seperti biasanya, andalanku bikin jelly, eitss,, tapi ini bukan jelly galau ataupun jelly racun hehe.. 
biar tak ketinggalan, aku selipkan jus alpukat yang aku taburi keju + tanda cinta wkwkwkwkwk,,,,
hemmm karena teman kelas dan SMAku udah dikuasai sama bunda Ermidan tante 'agil'.. jadi aku mau melanjutkan tongkat estafet ini keeee siapa ya?? 
emmm yang berkaitan sama jelly aja ah... mbak Anisau Sholihah hehe...
Selamat memasak dan memposting masakan selama 5 hari dan tag teman lain untuk mengikuti #foodchallenge 


#‎day4‬ ‪#‎foodchallenge‬ ‪#‎menusarapan‬
Jujur,, lagi gak masak hehe...
tapi aku mau memperkenalkan makanan khas Wonosobo tercinta
ada Sego megono sama tempe kemul, ditambah oseng buncis..
dan gak ketinggalan sebagai serat seperti biasanya,, ada jelly anggur..
lagi males nyetak jadi tak taruh di mangkuk kecil aja hehe...
sekarang tongkat estafet aku lanjutkan ke saudariku yang dulu bertemu di Pare, ukhti Khairul Ummah 
gak harus masak sendiri gak papa kan onty Anggi 'agil'??




#‎day5‬ ‪#‎thelastday‬ ‪#‎foodchallenge‬ 
Akhirnyaaaaaaa....... berakhir juga #foodchallenge yang dikasih onty 'agil' 
fyuuuhhh.... 
hari ini aku ingin memposting makanan kesukaanku sekaligus obat penambah nafsu makan, Ikan Asin 
ketambahan cah mie yang dimasak sama ibuku tercinta, trus buat seger-seger,, aku siapkan es klapa muda 
nah,, yang bikin bingung, siapa selanjutnya yang akan melanjutkan tongkat estafet #foodchallenge dariku?? 
hemmm saya mau tag ustadzah Dian Ernawati saja, boleh kan??
beliau sudah sangat mumpuni dalam hal masak-memasak.. 
selamat memasak ^_^